KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah “Motivasi dan
Kepuasan Kerja” sebagai pengembangan
mata kuliah Perilaku Organisasi. Melalui kesempatan yang
sangat berharga ini kami
menyampaikan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu penyelesaian makalah
ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan yang setimpal atas segala
bantuan yang telah diberikan dan menjadi bahan acuan dalam
menyelesaikan problematika tentang Perilaku Organisasi kedepannya. Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca.Walaupun makalah ini memiliki kelebihan
dan kekurangan.Kami mohon untuk saran dan kritiknya.Terima kasih.
Nusa Dua, November 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................... 1
DAFTAR
ISI.......................................................................................... 2
BAB
I PENDAHULUAN.................................................................... 3
1.1
Latar Belakang................................................................................... 3
1.2
Rumusan Masalah.............................................................................. 4
1.3
Tujuan................................................................................................ 5
BAB
II PEMBAHASAN....................................................................... 6
2.1
Pengertian Kompensasi................................................................... 6
2.2
Fungsi Kompensasi......................................................................... 6
2.3
Tujuan Kompensasi......................................................................... 7
2.4
Penentuan Kompensasi................................................................... 10
2.5
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Kompensasi........................ 12
2.6
Keadilan dan Kelayakan dalam
Pemberian Kompensasi................ 16
BAB
III PENUTUP............................................................................... 18
3.1
Kesimpulan........................................................................................ 18
3.2
Saran.................................................................................................. 18
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam pembahasan
tentang perilaku individu, konsep yang paling banyak mendapat perhatian dari
pakar ilmu organisasional adalah motivasi. Dengan memandang sekilas berbagai
organisasi, maka kita akan dapat melihat bahwa beberapa orang tertentu bekerja
lebih keras daripada yang lain. Seseorang yang memilki kemampuan istimewa
mungkin prestasinya dikalahkan oleh orang lain yang sesungguhnya kurang
berbakat. Mengapa orang-orang menampilkan tingkat usaha yang berbeda dalam
kegiatan yang berbeda? Mengapa orang-orang tertentu nampak memiliki motivasi
yang tinggi sementara yang lain tidak? Pertanyaan-pertanyaan iniliah yang
kemudian akan dibahas dalam makalah kami.
1.2 RUMUSAN MASALAH
·
Jelaskan definisi motivasi dan kepuasan
kerja.
·
Jelaskan teori-teori motivasi.
·
Jelaskan aspek-aspek kepuasan kerja.
·
Mengidentifikasi pengukuran kepuasan
kerja.
1.3 TUJUAN
·
Mampu menjelaskan dengan baik definisi
motivasi dan kepuasan kerja.
·
Mampu menjelaskan dan memahami teori-teori
motivasi.
·
Mampu menjelaskan aspek-aspek kepuasan
kerja.
·
Mampu mengidentifikasi pengukuran
kepuasan kerja.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
DEFINISI
MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA
2.1.1 Pengertian
Motivasi.
Sebagian
orang mengatakan bahwa motivasi merupakan hasil interaksi
antara individu dengan situasi. Tentu
saja, setiap individu memiliki dorongan motivasional dasar yang berbeda-beda.
Motivasi berasal dari bahasa Latin, Movere yang berarti dorongan atau daya
penggerak. Motivasi didefinisikan sebagai proses dimana perilaku diberikan
energy dan diarahkan. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah
kerja (mengarahkan daya dan potensi) bawahan, agar mau bekerja sama secara
produktif untuk mewujudkan tujuan yang telah ditentukan perusahaan. Motivasi
adalah proses yang memperhitungkan intensity (intensitas), direction (arahan),
dan persistence (kegigihan) dalam upaya mencapai tujuan. Motivasi dapat dikatakan sebagai
suatu proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu
untuk mencapai tujuannya. Sementara motivasi umum berkaitan dengan usaha
mencapai tujuan apa pun, kita akan mempersempit focus tersebut menjadi
tujuan-tujuan organisasional untuk menecerminkan
minat kita terhadap perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan. Berikut ini adalah tiga elemen utama
dari definisi motivasi :
·
Intensitas,
berhubungan dengan seberapa giat seseorang berusaha. Ini adalah elemen yang
paling banyak mendapat perhatian ketika kita membicarakan tentang motivasi.
·
Arah,
intensitas yang tinggi sepertinya tidak akan menghasilkan prestasi kerja yang
memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan
organisasi. Dengan demikian kita harus mempertimbangkan kualitas serta intensitas
upaya secara bersamaan.
·
Ketekunan,
dimensi ini merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang bisa mempertahankan
usahanya. Individu-individu yang bertahan melakukan tugas dalam waktu yang
cukup lama demi mencapai tujuan mereka.
2.1.2 Tujuan Motivasi.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah
dorongan dalam mengarahkan individu yang merangsang tingkah laku individu serta
organisasi untuk melakukan tindakan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan Motivasi adalah sebagai berikut :
·
Meningkatkan
moral dan kepuasan kerja karyawan.
·
Meningkatkan
produktivitas kerja karyawan.
·
Mempertahankan
loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan.
·
Meningkatkan
kedisiplinan karyawan.
·
Mempertinggi
rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.
·
Menciptakan
suasana dan hubungan kerja yang baik.
·
Meningkatkan
kreativitas dan partisipasi karyawan.
·
Meningkatkan
kesejahteraan karyawan.
2.1.3 Pengertian
Kepuasan
Kerja.
Istilah
kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai suatu
perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah
evaluasi karakteristiknya. Seseorang
dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif
tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki
perasaan-perasaan yang negative tentang pekerjaan tersebut. Pengertian Kepuasan Kerja menurut para
ahli :
·
Lock ( 1995 )
Kepuasan
kerja merupakan suatu ungkapan emosional yang bersifat positif atau
menyenangkan sebagai hasil dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atau
pengalaman kerja.
·
Robbins ( 1996 )
Kepuasan
kerja merupakan sikap umum seorang karyawan terhadap pekerjaannya.
·
Porter ( 1995 )
Kepuasan
kerja adalah perbedaan antara seberapa banyak sesuatu yang seharusnya diterima
dengan seberapa banyak sesuatu yang sebenarnya dia terima.
·
Mathis dan Jackson ( 2000 )
Kepuasan
kerja merupakan pernyataan emosional yang positif yang merupakan hasil evaluasi
dari pengalaman kerja.
Berdasarkan
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa :
·
Kepuasan kerja merupakan suatu tanggapan
emosional seseorang terhadap situasi dan kondisi kerja.
·
Tanggapan emosional bisa berupa perasaan
puas (positif) atau tidak puas (negatif). Bila secara emosional puas berarti
kepuasan kerja tercapai dan sebaliknya bila tidak aka berarti karyawan tidak
puas.
·
Kepuasan kerja dirasakan karyawan
setelah karyawan tersebut membandingkan antara apa yang dia harapkan akan dia
peroleh dari hasil kerjanya dengan apa yang sebenarnya dia peroleh dari hasil
kerjanya.
·
Kepuasan kerja mencerminkan beberapa
sikap yang berhubungan.
2.2
TEORI-TEORI
MOTIVASI
2.2.1 Teori-teori
motivasi pada Zaman Dahulu
Tiga
teori khusus dirumuskan selama periode ini, yang meskipun diserang
habis-habisan dan diragukan validitasnya, mungkin masih merupakan penjelasan-penjelasan
mengenai motivasi karyawan yang paling terkenal.Berikut ini adalah tiga teori
motivasi pada zaman dahulu.
A. Hierarki
Teori Kebutuhan
Teori motivasi yang
paling terkenal adalah hieraki kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia
membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima
kebutuhan, yaitu:
1. Fisiologis,
meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya.
2. Rasa
aman. Meliputi rasa ingin dilindingu
dari bahaya fisik dan emosional.
3. Social, meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan,
penerimaan, dan persahabatan.
4. Penghargaan, meliputi faktor-faktor penghargaan
internal seperti hormat diri, otonomi, dan pencapaian, dan faktor-faktor
penghargaan eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.
5. aktualisasi
diri, dorongan untuk menjadi
seseorang sesuai kecakapannya, meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi
seseorang, dan pemenuhan diri sendiri.
Dari
sudut motivasi, teori tersebut mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhan
yang benar-benar dipenuhi, sebuah kebutuhan yang pada dasarnya telah dipenuhi
tidak lagi memotivasi. Jadi, bila ingin memotivasi seseorang, menurut Maslow, Anda harus memahami tingkat
hierarki di mana orang tersebut berada saat ini dan focus untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan di atau di atas tingkat tersebut.
B. Teori
X dan Teori Y
Douglas
McGregor mengemukakan dua pandangan nyata mengenai manusia:
pandangan pertama psada
dasarnya negative, disebut teori X,
dan yang kedua pada dasarnya positif, disebut teori Y.Setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan
karyawan, McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia
didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung
membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut. Menurut Teori X, empat asumsi yang dimiliki oleh manajer adalah :
- Karyawan
pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk
menghindarinya.
- Karena
karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipaksa, dikendalikan, atau
diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan
- Karyawan
akan menghindari tanggung jawab dan mencari perintah formal bila mungkin.
- Sebagian
karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan
menunjukkan sedikit ambisi.
Sedangkan, Teori
Y juga memiliki empat asumsi positif, yaitu:
- Karyawan
menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
- Karyawan
akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
- Karyawan
bersedia belajar untuk menerima, bahkan mencari, tanggung jawab.
- Karyawan
mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi,
dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki
posisi manajemen.
C. Teori
Dua Faktor
Teori ini dikemukakan oleh seorang
psikolog bernama Frederick Herzberg.
Dengan keyakinan bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjaan adalah mendasar dan bahwa sikap
seseorang terhadap
pekerjaan bisa dengan sangat baik
menentukan keberhasilan atau kegagalan, Herzberg menyelidiki pertanyaan
tersebut, “Apa yang diinginkan individu dari pekerjaan-pekerjaan mereka?” Ia
meminta individu untuk mendeskripsikan, secara mendetail, situasi-situasi
dimana mereka merasa luar biasa baik atau buruk dengan pekerjaan-pekerjaan
mereka. Respons - respons
ini kemudian ditabulasi dan dikategorikan.
2.2.3 Teori-teori
Motivasi Kontemporer
Teori-teori sebelumnya
memang terkenal, namun tidak menunjukkan hasil yang baik setelah pemeriksaan
menyeluruh.Berikut ini adalah teori-teori kontemporer, di mana teori-teori
berikut menggambarkan kondisi pemikiran saat ini dalam menjelaskan motivasi
karyawan.
A. Teori
Kebutuhan McClelland
Teori yang menyatakan
bahwa pencapaian, kekuatan, dan hubungan adalah tiga kebutuhan penting yang
membantu menjelaskan motivasi.Teori ini dikembangkan oleh David McClelland,
yang didefiniskan berikut ini.
Kebutuhan pencapaian :
dorongan
untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil
Kebutuhan kekuatan : kebutuhan untuk membuat individu lain
berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya
Kebutuhan hubungan : keinginan
untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab
B. Teori
Evaluasi Kognitif
Teori ini menjelaskan
bahwa pengenalan penghargaan ekstrinsik, seperti imbalan kerja, untuk usaha
kerja yang sebelumnya memuaskan seacar intrinsic karena kesenangan yang berhubungan
dengan isi dari pekerjaan itu sendiri cenderung menurunkan seluruh motivasi.
Perkembangan teori evaluasi
koginitif baru-baru ini adalah indeks
diri, yang mempertimbangkan tingkat sampai mana alasan-alasan seseorang
untuk mengejar suatu tujuan konsisten dengan
minat dan nilai-nilai inti mereka. Sebagai contoh, apabila para individu
mengejar tujuan-tujuan karena minat intrinsic, cenderung mencapai tujuan-tujuan
mereka dan merasa senang meskipun mereka tidak mencapai tujuan-tujuantersebut.
C. Teori
Penentuan Tujuan
Teori bahwa
tujuan-tujuan yang spesifik dan sulit dengan umpan balik, menghasilkan kinerja
yang lebih tinggi.Teori ini mengisyaratkan bahwa seorang individu berkomitmen
pada tujuan tersebut, yang berarti, seorang individu memutuskan untuk tidak
merendahkan atau megabaikan tujuan tersebut.
D. Teori
Efektivitas Diri
Teori ini merujuk pada
keyakinan seorang individu bahwa ia mampu mengerjakan suatu tugas.Semakin
tinggi efektifitas diri Anda, semakin tinggi rasa percaya diri yang Anda miliki
dalam kemampuan Anda untuk berhasil dalam suatu tugas.Selain itu, individu yang
mempunyai efektivitas diri yang tinggi tampaknya merespons umpan balik negative
dengan usaha dan motivasi yang lebih tinggi.
E. Teori
Penguatan
Teori di mana perilaku
merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya.Dalam teori ini, kita
mempunyai sebuah pendekatan perilaku, yang menunjukkan bahwa penguatan
memengaruhi perilaku. Teori ini mengabaikan keadaan batin individu dan hanya
terpusat pada apa yan terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan.
F. Teori
Keadilan
Teori bahwa individu
membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan
dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan.
Selain itu, adalah penting untuk memerhatikan bahwa ketika sebagian besar
penelitian tentang teori keadilan berfokus pada imbalan kerja, karyawan
tampaknya mencari keadilan dalam distrivusi penghargaan organisasional yang
lain.
G. Teori
Harapan
Teori
harapan dari Victor Vroom menunjukkan bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan
untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan
bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik
dari hasil itu terhadap individu tersebut. Teori ini berfokus pada tiga
hubungan. Teori
harapan membantu menjelaskan mengapa banyak pekerja tidak termotivasi dalam
pekerjaan-pekerjaan mereka dan hanya melakukan usaha minimum untuk mencapai
sesuatu.
2.3
ASPEK-ASPEK
KEPUASAN KERJA
2.3.1 Kerja
yang secara mental menantang
Kebanyakan karyawan
menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai
betapa baik mereka mengerjakan. Karakteristik
ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan
yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi terlalu banyak
menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang
sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan.
2.3.2 Ganjaran
yang pantas
Para karyawan
menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai
adil,dan segaris dengan pengharapan mereka. Pemberian upah yang baik didasarkan
pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan
komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang
mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk
bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang
menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka
lakukan dan jam-jam kerja.Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan
bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi
keadilan.Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik
promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu
individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara
yang adil (fair and just) kemungkinan
besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.
2.3.3 Kondisi
kerja yang mendukung
Karyawan peduli akan
lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan
mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai
keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur (suhu),
cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain seharusnya tidak esktrem
(terlalu banyak atau sedikit).
2.3.4 Rekan
kerja yang mendukung
Orang-orang mendapatkan
lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi
kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu
bila mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenagkan dapat menciptakan kepuasan
kerja yang meningkat.Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama
dari kepuasan.
2.3.5 Kesesuaian
kepribadian dengan pekerjaan
Pada hakikatnya orang
yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang
mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan
yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan
lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena
sukses ini, mempunyai keboleh jadian
yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka.
2.4
PENGUKURAN
KEPUASAN KERJA
Setiap pekerjaan
menuntut interaksi dengan rekan
kerja dan atasan-atasan, mengikuti peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan
organisasional, memenuhi standar-standar kinerja, menerima kondisi-kondisi yang
acap kali kurang ideal, dll. Ini berarti bahwa penilaian seorang karyawan
tentang seberapa ia merasa puas atau tidak puas dengan pekerjaan merupakan
penyajian yang rumit dari sejumlah elemen pekerjaan yang berlainan.
2.4.1 Seberapa
puas individu dengan pekerjaan mereka?
Apakah sebagian besar
individu merasa puas dengan pekerjaan mereka? Tampaknya,
jawabannya adalah ‘ya’ yang memenuhi syarat di AS dan di sebagian besar Negara
maju. Berbagai studi independen, yang diadakan
di antara para pekerja AS selama 30 tahun terakhir, pada umumnya menunjukkan
bahwa mayoritas pekerja merasa puas dengan pekerjaan mereka. Meskipun jarak persentasenya lebar,
lebih banyak individu melaporkan bahwa mereka merasa puas dibandingkan tidak
puas.Selain itu, hasil-hasil ini biasanya berlaku untuk Negara maju lainnya.
2.4.2 Apakah
yang menyebabkan kepuasan kerja?
Pada kenyataannya, dari
segi kepuasan kerja, menikmati kerja itu sendiri hamper selalu merupakan segi
yang paling berkaitan erat dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi secara
keseluruhan. Kepuasan kerja
tidak hanya berkaitan dengan kondisi pekerjaan.Kepribadian juga memainkan
sebuah peran. Misalnya, beberapa individu dipengaruhi untuk menyukai hamper
segala hal, dan individu lain merasa tidak senang bahkan dalam pekerjaan yang
tampaknya sangat hebat. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempunyai
kepribadian negative biasanya kurang puas dengan pekerjaan mereka.
2.4.3 Pengaruh
dari karyawan yang tidak puas dan puas di tempat kerja.
Ada konsekuensi ketika karyawan
menyukai pekerjan mereka, da nada konsekuensi ketika karyawan tidak menyukai
pekerjaan mereka. Berikut ini adalah empat respons kerangka teoritis:
- Keluar
: perilaku yang ditujukan untuk meninggalkan
organisasi, termasuk mencari posisi baru dan mengundurkan diri
- Aspirasi
: secara aktif dan konstruktif berusaha memperbaiki kondisi, termasuk
menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan, dan beberapa bentuk
aktivitas serikat kerja
- Kesetiaan
: secara pasif tetapi optimistif menunggu membaiknya kondisi, termasuk membela
organisasi ketika berhadapan denagn kecaman eksternal dan memercayai organisasi
dan manajemennya untuk “melakukan hal yang benar”
- Pengabaian
: secara pasif membiarkan kondisi menjadi lebih buruk, termasuk ketidakhadiran
atau keterlambatan yang terus-menerus, kurangnya usaha, dan meningkatnya angka
kesalahan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah Keadaan dimana usaha dan kemauan keras seseorang diarahkan kepada
pencapaian hasil – hasil atau tujuan tertentu. Kepuasan kerja merupakan suatu
tanggapan emosional seseorang terhadap situasi dan kondisi kerja. Aspek – aspek
kepuasan kerja meliputi
kerja yang secara mental menantang, ganjaran yang pantas, kondisi kerja yang mendukung, rekan kerja yang mendukung, dan kesesuaian kepribadian dengan
pekerjaan. Ada
beberapa teori pada zaman dulu dan teori kontemporer. Serta ada beberapa
cara untuk mengukur kepuasan kerja, yang terdiri atas : Seberapa
puas individu dengan pekerjaan mereka, apa yang menyebabkan kepuasan kerja,
serta pengaruh dari karyawan yang tidak puas dan puas di tempat kerja.
3.2 Saran
Dalam rangka peningkatan
kinerja SDM dengan motivasi, peningkatan kemampuan pengetahuan dan keterampilan
pegawai perlu ditingkatkan dengan pengadaan studi lanjut ataupun
diikut-sertakan pada pelatihan-pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya. Selain
itu, Dalam rangka pemenuhan kebutuhan fisiologis seyogyanya mengupayakan
peningkatan secara kualitas dan kuantitas reward berdasarkan pencapaian kinerja
pegawai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar